Gereja Katolik Paroki Ratu Pencinta Damai | www.parokirpd.org

. . . .KLIK DISINI >> DOA ARAH DASAR (ARDAS) KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2013 SEBAGAI TAHUN ORANG MUDA KATOLIK DAN KERASULAN KITAB SUCI. . . .
#htmlcaption1 #htmlcaption2 #htmlcaption3 #htmlcaption4 #htmlcaption5

Selasa, 22 Oktober 2013

Makna Purgatorium Bagi Umat Beriman

0 komentar

Apa itu “Purgatorium?”

Istilah bahasa Latin purgatorium atau dalam bahasa Inggris purgatory diterjemahkan dengan api penyucian. Istilah tersebut memperlihatkan situasi manusia sesudah kematian, suatu keadaan ketika seseorang berada di antara surga dan neraka. Kesamaan dengan neraka terungkap dengan kata “Api”, namun perbedaan dengan neraka adalah purgatorium bukan dalam arti hukuman abadi melainkan persiapan untuk masuk surga. Di satu pihak, jiwa-jiwa dalam api penyucian mati dalam rahmat karena itu mereka termasuk anggota surga. Tetapi di lain pihak, masih ada dosa-dosa ringan tertentu yang menghalangi mereka masuk ke dalam surga (Dister, 2004: 599-600). Itulah sebabnya Gereja mengajarkan: “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan suatu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga” (KGK, 1030).

Purgatorium sebelum kematian

Selain purgatorium sesudah kematian, Gereja juga mengakui adanya purgatorium sebelum kematian. Yang dimaksud dengan purgatorium sebelum kematian adalah suatu keadaan ketika seseorang telah mengalami pemurnian yang mendalam selama hidupnya di dunia sehingga ia tidak perlu lagi menjalani purgatorium sesudah kematian, yaitu api penyucian. Sekalipun ia masih mengalami api penyucian sesudah kematian, biasanya tidak berlangsung lama. Jiwa-jiwa yang suci dan saleh sesudah kematiannya langsung masuk ke dalam kebahagiaan surga (bdk. S. Yohanes dari Salib, Malam Gelap, buku II, bab VI, no. 6).

Dalam Ensiklik Spe Salvi (dalam pengharapan kita diselamatkan), Bapa Suci Benediktus XVI dengan mengutip ajaran S. Agustinus mengajarkan: “Manusia diciptakan bagi keagungan - bagi Allah, dia diciptakan untuk dipenuhi oleh Allah” (no. 33). Betapa luhur dan mulia panggilan manusia ini. Namun, akibat dosa asal, yakni kecenderungan yang tak teratur terhadap dosa dan kejahatan, dia kerapkali jatuh ke dalam dosa-dosa dan hal ini merupakan hambatan serta rintangan untuk mengalami kasih Allah. Akan tetapi,kita meyakini kebenaran iman yang diajarkan oleh S. Yohanes Rasul: “Betapa besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Di dalam Kristus, manusia menerima pengampunan atas dosa-dosanya dan keselamatan yang kekal dari Allah Bapa surgawi.

Allah menanamkan kerinduan di kedalaman hati manusia sehingga jiwa mencari, mengejar, dan mengasihi Dia di atas segala sesuatu (bdk. Garrigou-Lagrange, 1991: 30-36). Pada saat itu jiwa mulai mengalami pertobatan, meninggalkan dosa-dosa kendati ia masih jatuh bangun dalam kelemahan, dan menyingkirkan hambatan-hambatan yang membawanya pada dosa ini. Keadaan ini disebut dengan pemurnian pasif inderawi. Dalam pemurnian ini, Allah membawa jiwa untuk menanggalkan penghiburan rohani, maupun kesenangan-kesenangan pada bidang inderawi (panca indera) serta kenikmatan-kenikmatan fantasi dan imajinasi.

Apabila jiwa semakin bertumbuh dan berkembang dalam iman, pengharapan, dan kasih, sikap yang diambilnya ialah “melupakan segala sesuatu yang mengganggunya, memelihara damai batin, dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah” (S. Yohanes dari Salib, Malam Gelap, buku I, bab 10, no. 3-4 dan 6). Dia terus berkembang dalam hidup rohani dan Allah akan menempatkan pada pemurnian yang lebih dalam, mengerikan, dan amat gelap. Dalam pemurnian tersebut, di satu sisi jiwa akan mengalami penderitaan yang amat menyakitkan, namun di lain sisi dia dibersihkan, disembuhkan, dan dimurnikan dari cacat cela serta kelemahannya. Dia mengalami persiapan menuju persatuan yang amat mesra dengan Allah.

Pemurnian ini disebut dengan istilah pemurnian pasif rohani, suatu pemurnian yang dikenal dengan purgatorium sebelum kematian. Pemurnian ini hanya dialami beberapa orang saja, karena memang sesuai dengan panggilan yang khusus dari Allah dan Allah sendiri secara istimewa membawa orang pada pemurnian ini agar dia mencapai persatuan yang mesra dengan Allah. Pemurnian ini ditandai dengan pencobaan yang amat berat,misalnya ditinggalkan oleh orang yang dikasihinya atau bahkan oleh Allah sendiri tanpa tahu sebabnya, mengalami fitnah serta kesulitan besar karena sesama,dan penderitaan besar lainnya.

Dalam keadaan ini, Tuhan menganugerahkan rahmat yang besar bagi jiwa-jiwa yang mengalaminya, sebuah“Kematian mistik”, yaitu kematian atas dirinya, kematian atas egoisme dan cinta dirinya, penyembuhan atas kesombongan dan kerakusan khususnya pada bidang rohani yang menjadi akar dan penyebab cacat cela, dan kelemahan yang lain. Pada saat itu juga jiwa menerima anugerah “Teologi mistik”, suatu pengenalan akan Allah yang melampaui segala pengertian karena Allah menganugerahkan cinta kasih dan kebijaksanaan-Nya yang melampaui apa yang dapat dipikirkan manusia (Malam Gelap, buku II, bab 5, no. 1).

Pemurnian sebelum kematian ini dialami oleh para kudus besar seperti S. Theresia dari Kanak-kanak Yesus yang mengalami pencobaan yang besar bahkan juga pada saat terakhir hidupnya.Demikian juga S. Vincensius a Paulo yang mengalami fitnah dan kesulitan besar dari salah satu imamnya dan S. Paulus dari Salib yang selama 45 tahun mengalami pencobaan dan penderitaan besar sebagai kurban bagi keselamatan jiwa-jiwa, dunia, dan rencana Allah dalam hidupnya untuk mendirikan Kongregasi Passionis.

Bagi S. Yohanes dari Salib, pemurnian sebelum kematian ini merupakan persiapan panjang sebelum jiwa menerima anugerah persatuan dengan Allah.Keadaan ini disamakan dengan “api penyucian” (purgatorium sesudah kematian). Hanya perbedaannya terletak pada sarana pemurniannya, yaitu apabila dalam api penyucian jiwa akan dimurnikan oleh api yang gelap, sedangkan dalam purgatorium sebelum kematian selama hidupnya di dunia ini dia akan dimurnikan oleh api cinta kasih” (Malam Gelap, buku II, bab 12, no. 3).

“Jiwa yang mengalami penderitaan-penderitaan pada waktu ini tidak dapat dibayangkan; penderitaan-penderitaan ini mirip dengan penderitaan-penderitaan di api penyucian. Betapa dahsyatnya pencobaan ini dan betapa dalamnya penderitaan yang dialami jiwa pada keadaan ini” (Nyala Cinta yang Hidup, Stanza I, no. 21). “Penderitaan ini menyerupai penderitaan di api penyucian. Seperti jiwa-jiwa menderita di api penyucian akan memandang wajah Allah dari muka ke muka dalam hidup selanjutnya, demikian juga jiwa-jiwa yang mengalami penderitaan ini selama di dunia ini akan diubah ke dalam Allah melalui cinta dalam hidup ini” (Nyala Cinta yang Hidup, Stanza I, no. 24).

Purgatorium sesudah kematian

Setelah kita memahami ajaran tentang purgatorium sebelum kematian, kita akan mengenal pula ajaran Gereja tentang purgatorium sesudah kematian atau lebih kerap disebut purgatorium, api penyucian, dalam arti sesungguhnya. Dalam bagian ini kita mau mengerti dengan baik bagaimana jiwa-jiwa yang mati dalam rahmat Allah namun belum cukup dimurnikan dari dosa-dosanya? Untuk dapat mendalami hal ini, kita akan menelusuri sumber-sumber iman Gereja, yaitu Kitab Suci dan ajaran Bapa Gereja mengenai purgatorium (api penyucian).

Kitab Suci memang tidak menyebutkan secara eksplisit ajaran tentang purgatorium, namun secara implisit baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru menunjukkan ajaran tersebut (Garrigou-Lagrange, 1991: 150-153). Perjanjian Lama menyebutkan bahwa menurut iman bangsa Israel, Yudas Makabe mengumpulkan orang-orang Israel untuk mempersembahkan kurban penebus salah untuk semua orang yang telah mati, supaya mereka dilepaskan dari dosa-dosa mereka. Inilah suatu perbuatan yang saleh dan baik untuk mendoakan orang-orang yang mati (bdk. II Mak. 12:45). S. Thomas Aquinas meneguhkan ajaran ini bahwa orang Kristen tidak diajarkan untuk mendoakan orang-orang yang berada di surga maupun yang berada di neraka, tetapi kami percaya bahwa jiwa-jiwa dalam purgatorium dimurnikan untuk menebus dosa-dosanya karena mereka tidak menebusnya selama masih hidup di dunia.

Kemudian dalam Perjanjian Baru diajarkan bahwa “dosa melawan Roh Kudus tidak akan diampuni baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang” (bdk. Mat. 12:32). Kebenaran iman ini menegaskan bahwa adanya dosa-dosa tertentu yang diampuni sesudah kematian, tetapi bukan dosa maut. Ini berarti menunjuk pada dosa-dosa ringan, atau dosa-dosa maut yang telah diampuni tetapi belum sepenuhnya ditebus. Ajaran ini semakin jelas jika mengikuti tulisan S. Paulus: “Kamu adalah bangunan Allah . . . dasarnya . . . adalah Kristus Yesus. Sekarang, bila seorang membangun dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, pekerjaan setiap orang akan nampak. Dan api akan menguji pekerjaan setiap orang.” (bdk. 1 Kor 3:10 - 15). Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang yang bekerja membangun di atas dasar Yesus Kristus akan menerima ganjaran, yaitu keselamatan namun hanya melalui api.

Para Bapa Gereja memandang teks ini sebagai ajaran purgatorium, yaitu Origenes, Basilius, S. Sirilus dari Yerusalem, S. Hieronimus, S. Ambrosius, S. Agustinus dan S. Gregorius Agung. Ayat 14 dan 15 merujuk pada api penganiayaan dan pengadilan terakhir. Bagi S. Thomas Aquinas teks ini menunjukkan suatu bangunan yang didirikan di atas dasar, yaitu Kristus.Adapun pekerjaan-pekerjaan baik dibandingkan dengan emas, perak, dan batu permata. Sedangkan dosa-dosa ringan dibandingkan dengan kayu, rumput kering, dan jerami. Pada Hari Tuhan Allah menyatakan pengadilan-Nya, yaitu atas semua penganiayaan di dunia, pengadilan khusus sesudah kematian, dan pengadilan terakhir. Maksudnya ialah api akan menguji dan memurnikan seluruh penderitaan di bumi, kemudian dalam purgatorium,dan terakhir pada saat pengadilan terakhir.

Dalam Tradisi Gereja perkembangan ajaran purgatorium terbagi atas dua periode, yaitu abad I - IV dan sesudah abad IV. Pada abad I - IV ajaran tentang purgatorium telah diteguhkan atau paling sedikit secara implisit, misalnya melalui praktik doa umum dan kurban bagi orang yang telah meninggal dunia. Kenyataan konkret ini dapat dijumpai dalam ajaran dan kehidupan Tertulianus, S. Efrem, S. Sirilus dari Aleksandria, S. Epifanius, dan S. Yohanes Krisostomus. Demikian juga dalam liturgi kuno menunjukkan adanya praktik doa dan kurban bagi orang yang telah meninggal dunia. Selain itu baik Gereja Timur maupun Barat mengakui keberadaan sebuah tempat atau keadaan dimana jiwa-jiwa yang belum cukup dimurnikan mengalami penghukuman atas dosa-dosa mereka. Tentu saja doa, kurban, dan Misa bagi orang yang telah meninggal dunia tidak pernah ditujukan bagi mereka yang telah dikutuk dalam neraka ataupun jiwa-jiwa yang sudah bahagia di surga.

Pada periode berikutnya, yaitu sesudah abad IV S. Agustinus, S. Kaesarius dari Arles, S. Gregorius Agung mengembangkan ajaran purgatorium sehingga semakin jelas dan eksplisit. Para Bapa Gereja menegaskan adanya hukuman-hukuman api yang berkobar-kobar, yang dialami jiwa-jiwa dalam purgatorium karena selama hidup di dunia dosa-dosanya belum cukup dimurnikan. Ada empat kebenaran yang dirumuskan para Bapa Gereja mengenai purgatorium. Pertama, sesudah kematian tidak ada kemungkinan dari pihak manusia untuk menebus dosa dan kesalahan mereka. Kedua, purgatorium adalah suatu tempat dimana jiwa-jiwa mengalami berbagai penderitaan sementara karena dosa-dosa mereka. Ketiga, jiwa-jiwa ini dapat ditolong melalui doa-doa manusia yang masih hidup di dunia, khususnya melalui kurban Ekaristi. Keempat, purgatorium akan berakhir pada saat pengadilan terakhir pada akhir zaman.

Pada abad-abad berikutnya, ajaran purgatorium dan liturgi bagi orang yang telah meninggal dunia semakin dikembangkan dan disempurnakan mulai dari Konsili Kedua Lyons, Florence, dan Trente. Yang menarik dari pernyataan Konsili Trente adalah purgatorium tidak digambarkan sebagai hukuman. Sebaliknya tekanan ada pada bantuan yang dapat diberikan kepada jiwa-jiwa yang sedang berada dalam purgatorium. Oleh sebab itu, purgatorium terutama dimaksudkan sebagai pembersihan (pemurnian) dan penyembuhan. Ini berarti orang yang beriman dan mati dalam rahmat belum seratus persen “Orang benar” karena itu masih membutuhkan pemurnian dalam purgatorium. Purgatorium berkaitan dengan proses pembenaran dan pembersihan manusia secara keseluruhan, khususnya dalam kebebasan dan tanggung jawabnya sebagai manusia dalam hidupnya di dunia ini (Dister, 2004: 600).

Aplikasi praktis

Berdasarkan uraian di atas, ajaran tentang purgatorium menunjuk pada konsekuensi-konsekuensi praktis bagi manusia yang masih hidup dalam dunia, yaitu:

a. Manusia hendaknya mengejar keselamatan pribadi dan sesamanya dalam terang Kristus.

b. Gereja mengajak seluruh umat Allah supaya berdoa dan berkurban bagi keselamatan jiwa-jiwa dalam api pemurnian terutama dalam kurban Ekaristi supaya mereka dapat masuk kebahagiaan di surga.

c. Gereja menganjurkan agar segenap umat beriman melakukan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.

d. Dalam rangka HARI RAYA MENGENANG ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN setiap tanggal 2 November, setiap orang Kristen dapat memperoleh indulgensi penuh bagi orang yang sudah meninggal. Caranya mengunjungi makam dan/atau mendoakan arwah orang yang telah meninggal. Mereka yang menjalankan setiap hari dari tanggal 1 - 8 November memperoleh indulgensi penuh dan yang menjalankan pada hari-hari lain memperoleh indulgensi sebagian.

e. Umat beriman juga dapat berdoa dan berkurban bagi orang yang telah meninggal dunia, sesuai dengan kebiasaan selama ini, yaitu dengan mengadakan Ibadat atau Misa Arwah pada saat jenasah disemayamkan, tutup peti, dan pada saat dimakamkan. Selain itu dapat dilaksanakan Ibadat atau Misa Arwah pada saat 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari terhitung sejak jenasah dimakamkan.

f. Orang beriman hendaknya belajar dari ajaran dan teladan hidup para kudus, kendati beberapa dari antara mereka kurang terdidik dan tidak dapat menjelaskan secara teologis tentang api pemurnian. Walaupun demikian, mereka menghayati konsep hidup tentang purgatorium, penyesalan yang sempurna dan mendalam akan dosa-dosanya, persiapan akan hidup kemartiran, pengurbanan demi kematian, pengampunan dosa dan kehidupan yang kekal: kebahagiaan di surga.

Sumber : Carmelia.net

Rabu, 09 Oktober 2013

Iman vs Mata

0 komentar

Ada seorang atheis berdebat kepada seorang Pastur. "Pastur, menurut saya TUHAN itu tidak ada. Kalau Pastur mau menyangkal. Silakan Anda buktikanlah kalau TUHAN itu ada..."

Sang pastur kemudian menjawab orang itu : "Aku akan membuktikan hal itu kepadamu jika kamu bisa membuktikan bahwa warna biru itu ada."

Lalu orang atheis itu segera mengeluarkan saputangannya yang kebetulan berwarna biru dan berkata kepada Pastur itu "Lihatlah Pastur, ini warna apa? Ini adalah warna biru dan saya rasa pastur mengerti. Nah berarti saya sudah membuktikan kalau warna biru itu ada. sekarang giliran Pastur."

Pastur itu menjawab : "Bukan kepada saya kamu harus membuktikannya tetapi pada orang itu" katanya sambil menunjuk ke seorang pengemis buta di depan gerejanya.

Lalu orang atheis itu berkata : "Pastur gila kali ya, bagaimana saya bisa membuktikan warna biru kepada orang itu, dia melihat aja tidak bisa ".

Lalu pastur itu menjawab :
"Sama donk, kalau Anda membuktikan warna biru kepada saya sangat mudah karena saya dan Anda sama-sama memiliki mata, tetapi Anda tidak akan dapat membuktikannya kepada pengemis itu karena dia tidak memiliki mata. Saya memiliki iman dan karena iman itu saya dengan mudah bisa mengetahui kalau TUHAN itu ada, tetapi bagaimana caranya saya membuktikan kepadamu yang tidak memiliki iman? Mintalah iman itu agar dikaruniakan TUHAN kepadamu sehingga kamu bisa melihatNYA..."

Sumber : Pondok Renungan

PENGUMUMAN PAROKI EDISI 266

0 komentar

Wisata Rohani
Paroki RPD akan mengadakan Wisata Rohani Keluarga (ziarah, misa, rekreasi) ke Tumpang Minggu, 27 Oktober 2013. Pendaftaran per orang Rp. 85.000,-. melalui ketua lingkungan masing-masing / sekretariat paroki. Pendaftaran ditutup tanggal 20 Oktober 2013. Daftar nama yang mendaftar melalui Sekretariat Paroki dapat dilihat di papan pengumuman depan gereja.

Renovasi Gua Maria
Sebagai bentuk ikut memiliki gereja, kami mohon partisipasi umat dalam pembiayaan renovasi Gua Maria. Sumbangan dapat diberikan melalui Ketua Lingkungan, Rm.Paulus, Sekretariat Paroki, atau dimasukkan lewat kotak kaca. Atas partisipasi umat, Paroki mengucapkan banyak terima kasih.

Siswa/i SMA/K Negeri dan Swasta Non Katolik yang bersekolah di daerah Kevikepan Surabaya Utara diharapkan berpartisipasi dalam Gathering 13 Oktober 2013 di SMK St. Louis, Jl. Tidar 119 Surabaya jam 09.00. Mohon mendaftar di Sekretariat

Panitia Temu Kaum Muda Vinsensian (TKMV) akan mengadakan Grand Reunion TKMV bagi peserta TKMV periode tahun 2002-2012, Minggu, 13 Oktober s/d Selasa, 15 Oktober di GSV Prigen. Alummi TKMV yang berminat bisa mendaftar di Sekretariat atau Rm.Paulus.

Dimohon kehadiran OMK, Rekat & Misdinar di Gedung Maria I pada tanggal 20 Oktober pukul 09.30 dalam rangka sarasehan bersama Frater/Suster dalam kegiatan Minggu Misi-sedunia ke-87.

Dimohon untuk semua Ketua Lingkungan segera menyerahkan daftar nama anggota PKKS lingkungan masing-masing kepada Bpk. Djumarno atau Sekretariat Paroki.

RENUNGAN HARIAN (06-12 OKTOBER 2013)

0 komentar

MINGGU, 06 OKT ’13; Hab 1:2-3; 2:2-4; 2Tim 1:6-8,13-14; Luk 17:5-10.
Sampai hari ini banyak umat yg tidak tahu & tidak mengereti apa itu iman. Katanya . . .beriman itu ‘pokok e’ percaya pada Allah, percaya pada Tuhan Yesus. Punya agama/beragama. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yg kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yg tidak kita lihat (Ibr 11:1), menuntun pada kebenaran, selalu mencari Allah, mempercayai kebenaran dan kasih Allah, mentaati dan melakukan SabdaNya dan perintah2Nya, menolak kejahatan dan tabah dalam pencobaan. “Tuhan, tambahkanlah iman kami, kata p0ara rasul (Luk 17:5).

SENIN, 07 OKT ’13; Yun 1:1- 2:1,11; Luk 10:25-37.
Siapakah “sesamamu manusia” seperti yg dimaksud oleh Yesus dalam Injil hari ini? Setiap orang, siapaun dia, apapun latar belakangnya, agamanya, budaya, pendidikan, ekonomi nya dan lain2, adalah sesama m,anusia yg pantas dihargai dan dikasihi. Tak jarang kita memiliki cara pandang yg salah, yg diskriminatif, yg mem-beda2 kan. Mari kita member perlakuan yg adil dan murah hati kpd orang2 disekitar kita, rekan kerja ataupun pembantu/pegawai kita. Tuhan memberkati!

SELASA, 08 OKT ’13; Yun 3:1-10; Luk 10:38-42.
Cerita Maria dan Marta dalam Injil hari ini, mengajar kita bahwa yg satu suka mengadu, suka mem-banding2 kan atau bahkan iri hati, sedangkan yg satunya bersikap ramah dengan cara menjadi pendengar yg baik. Mari kita belajar tulusdalam membantu sesama dan menjadi pendengar yg baik bagi orang lain.

RABU, 09 OKT ’13; Yun 4:1-11; Luk 11:1-4.
Doa Bapa Kami adalah doa pokok dalam Gereja Katolik. Tetapio jarang sekali yg bisa memaknai doa itu secara mendalam saat berdoa Bapa Kami. Salah satu pesan dalam doa tsb adalah ‘pengampunan’. Kita hidup ini tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Mohon ampun adalah sikap iman yg pantas dipupuk. Kerendahan hati utk mengakui dosa dan sekaligus kesediaan diri utk mengampuni orang lain menjadi sikap yg seimbang. Mengampuni itu bukanlah mudah apalagi sudah terluka batinnya. Mari kita memaknai pengampunan setiap berdoa Bapa kami.

KAMIS, 10 OKT ’13; Mal 3:13-20a; Luk 11:5-13.
Kita bisa hidup dan bernafas sampai sekarang dalam keadaan apapun juga, itu dari siapa? Jarang kita menyadari sebelumnya, bahwa itu semua karena kasih dan perhatian Tuhan yg begitu besar. Saudaraku, rasa syukur menciptakan sikap iman yg baik kepada Tuhan bahkan menjadikannya orang yg murah hati dan lemah lembut serta menjadi saluran rahmat Tuhan.

JUMAT, 11 OKT ’13; Yl 1:13-15; 2:1-2; Luk 11:15-26.
“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku . . . (luk 11:23). Siapapun umat yg tidak bersama Yesus, melawan iblis dan kejahatan berarti menentang Yesus. Tidak ada kompromi atau bersikap netral dengan ketidakbenaran. Anda bagaimana?

SABTU, 12 OKT ’13; Yl 3:12-21; Luk 11:27-28.
“Yang berbahagia ialah mereka yg mendengarkan firman Allah dan yg memeliharanya.” Artinya, orang yg menerima Firman Allah, memlihara dan mengembangkannya adalah orang yg berbahagia, karena tidak ada lagi tempat kosong bagi roh jahat utk tinggal dalam dirinya. Kalau ingin bahagia lakukanlah itu. (peTu)

SELIBAT (II) & SEBUTAN BAPA SUCI

0 komentar

Memang harus diakui bahwa Allah menciptakan manusia dalam dua jenis kelamin, pria dan wanita, dengan maksud supaya mereka bersatu, saling melengkapi dan mencintai. Namun, tidak kawin dan beranak cucu tidak melawan kodrat. Apakah seseorang yang kebetulan lahir tanpa kemampuan untuk beranak cucu (karena ia banci atau mandul) boleh dianggap sebagai manusia yang tidak utuh? Tidak bukan? Sesungguhnya kodrat manusia yang terdalam itu terletak dalam hakikatnya sebagai “gambar dan rupa Allah” (Kej 1:27)? Jadi, kita bisa berkesimpulan: karena Allah tidak mempunyai jenis kelamin, maka kodrat manusia pun tidak terletak dalam jenis kelaminnya dan dalam kemampuannya untuk beranak cucu. Sebaliknya, karena hakikat Allah itu adalah cinta (1Yoh 4:8), maka cintalah yang menjadi kodrat manusia. Jika seorang manusia tidak mampu mencintai, dia melawan kodratnya. Dan para imam, diakon dan biarawan-biarawati ingin mengembangkan kodrat terdalam itu dengan tidak menikah agar mereka bisa mencintai Allah dan sesama dengan lebih bebas.

(Sumber: Dr. H. Pidyarto, O.Carm, Mempertanggungjawabkan Iman Katolik, hlm. 127)

SEBUTAN BAPA SUCI
Paus memang disebut “bapa suci”. Tetapi sebutan itu tidak bermaksud mengatakan bahwa dia tidak mempunyai dosa. Ia tetap seorang manusia seperti kita: berdosa. Tetapi sebutan “suci” diambil dalam arti Alkitabiah. “Suci” atau “kudus” pertama-tama berarti dikhususkan untuk Allah. Jadi manusia, gedung, alat-alat, dan lain-lain yang disisihkan dari penggunaan sehari-hari dan profan lalu dikhususkan bagi Tuhan, disebut suci. Setiap orang Kristen sebenarnya bisa disebut “orang kudus” atau “santo” (Kis 9:13 ; 1 Kor 16:1 ; 1br 3:1, dsb.). Akan tetapi dengan sebutan itu tidak berarti mereka tidak berdosa. Nah, sejauh paus itu dikhususkan untuk pelayanan bagi Tuhan, dia disebut “bapa suci”.

(Sumber: Dr. H. Pidyarto, O.Carm, Mempertanggungjawabkan Iman Katolik, hlm. 192

SANTA PERAWAN MARIA RATU ROSARIO

0 komentar

St. Dominikus-lah yang pada akhir abad keduabelas dan awal abad ketigabelas mendorong semua orang untuk berdoa Rosario. St. Dominikus teramat sedih hatinya oleh karena menyebarnya suatu aliran bidaah yang sangat mengerikan yang disebut Albigensia. Bersama dengan Ordo Pengkhotbah yang baru dibentuknya, ia melakukan yang terbaik untuk membinasakan bidaah yang amat berbahaya tersebut. Ia mohon bantuan Santa Perawan Maria, dan dikisahkan bahwa Bunda Maria memintanya untuk menyebarluaskan devosi kepada Rosario Suci. St. Dominikus mentaati keinginan Bunda Maria dan berhasil dengan gemilang menghancurkan bidaah tersebut.

Rosario adalah suatu devosi yang amat sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang - baik tua maupun muda, terpelajar maupun tidak terpelajar. Doa rosario dapat diucapkan di mana saja, serta kapan saja. Sementara kita mendoakan Bapa Kami, sepuluh Salam Maria serta Kemuliaan, kita merenungkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Yesus dan Maria. Dengan cara demikian, kita semakin dekat serta akrab kepada Yesus dan kepada Bunda-Nya yang kudus. Kita berusaha untuk meneladani hidup mereka yang kudus. Bunda Maria amat senang jika kita berdoa Rosario sesering mungkin dengan baik. Bunda Maria biasa mendoakannya bersama St. Bernadette ketika ia menampakkan diri kepadanya di Lourdes. Ketiga anak dari Fatima mengetahui rahasia kekuatan Rosario dari Bunda Maria. Bunda Maria mengajarkan kepada mereka bahwa berdoa Rosario mendatangkan rahmat serta menyelamatkan para pendosa dari api neraka.

Seorang Paus Dominikan (Ordo Pengkhotbah), Paus Pius V, menetapkan Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa terimakasih kita kepada Bunda Maria atas kemenangan pasukan Kristen melawan pasukan Turki di Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571.

Pesan Paus Emeritus Benediktus XVI, Pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-45, 5 Juni 2011

Paus Benediktus XVI
“Saya ingin mengajak umat Kristiani dengan percaya diri, dan dengan kreativitas yang terbina dan bertanggungjawab, bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh Jaman Digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kristus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah, yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (bdk. Efesus 1:10).”

~ Paus Emeritus Benediktus, Hari Komunikasi Sedunia Ke-45, 5 Juni 2011

============================================

Situs - Situs Resmi Vatican :
  1. Vatican.Va
  2. Vatican - News on Twitter
  3. Vatican's Channel - YouTube
Gereja Paroki Ratu Pencinta Damai
Sekretariat: JL. Pogot Baru 77 -79 Surabaya 60129 - INDONESIA
Telp. +62-31-3711544, Fax. +62-31-3711395
E-mail: gereja.rpd@gmail.com

Translator

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETABlogger Tips And Tricks|Latest Tips For BloggersFree BacklinksBlogger Tips And Tricks Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
↑ Google Translation

How Is My Site ?

Archives

 

Paroki Ratu Pencinta Damai. Copyright 2011 ~ 2013 All Rights Reserved | Diperkenankan Untuk Mengutip Sebagian Atau Seluruh Isi Materi Situs Dengan Mencantumkan www.parokirpd.org
This Site Best Viewed at 1024x768 or Higher Resolution with Google Chrome | Distributed by Deluxe Templates | Proudly powered by Blogger
Site Meter